Sepanjang pernikahan kami, ada pembagian peran yang secara sukarela kami sepakati bersama. Suami bekerja mencari nafkah dengan segala kesibukannya. Dan saya di rumah menjaga anak-anak.

Tak jarang, berhari-hari bahkan pernah hampir sebulan suami ke luar kota. Sementara saya di rumah bersama tiga anak.

Kadang terbersit keinginan ikut ke luar kota atau ke luar negeri saat suami bepergian. Namun lagi-lagi saya ingatkan diri bahwa ada anak-anak yang masih kecil-kecil dan membutuhkan saya. Keadaan saat itu belum memungkinkan untuk meninggalkan anak-anak.

Akhirnya saya hanya bisa mupeng melihat foto-foto suami di berbagai tempat, dan dalam foto itu tak pernah ada saya. Bermain salju di Pegunungan Alpen, berfoto di taman sakura di pulau Jeju, naik gajah di Thailand. Gimana saya nggak mupeng, kan Pemirsa? Hehe

Seiring waktu berjalan, anak-anak semakin besar, kami berpikir sepertinya bisa mereka ditinggal sebentar saat kami bepergian berdua. Bukan ke Jeju atau ke Swiss, tapi kami ingin umroh berdua.

Bismillah. Kami bulatkan tekad dan niat walaupun kadang terselip kekhawatiran, bagaimana anak-anak saat kami pergi nanti.

Bantuan orang terdekat yang bisa dipercaya sangat kami butuhkan. Pilihan jatuh ke ibu saya dan adik laki-laki saya beserta istrinya. Dari pengamatan kami, mereka berdua bisa kami titipi anak-anak selama kami umroh nanti.

Dan, ya, Alhamdulillah mereka bersedia. Kami bersyukur sekali. Bisa berangkat dengan tenang karena ada yang menjaga anak-anak.

Saat itu, yang paling menjadi pikiran adalah si bungsu. Dia yang paling manja dan paling dekat dengan saya, ibunya. Tentu butuh persiapan untuk membuat dia mau berpisah dengan saya. Kami sounding setiap hari. Bahwa kepergian kami hanya sebentar. Ada nenek, om dan tante yang akan menemani di rumah. Dan kami berjanji akan sering-sering videocall untuk melepas rindu.

Sebenarnya bukan hanya dia yang harus menyiapkan diri. Saya sebagai ibunya pun harus menekan rasa berat meninggalkan si kecil yang sehari-harinya selalu nempel itu.

Syukurlah semua dimudahkan. Kami berangkat ke bandara di suatu sore dengan taksi online. Saya, tentu saja menahan tangis. Haha padahal ya cuma mau pergi selama dua mingguan. Tapi rasanya seperti mau pisah selamanya. Suami menggenggam tangan saya, menguatkan. Katanya, kalau ibunya rela, anaknya juga akan nyaman, tidak rewel.

Begitulah, selama perjalanan dan setiap ada kesempatan, kami video call ke anak-anak. Di awal, si bungsu masih sering menangis. Namun, lama kelamaan dia mulai ceria saat bertatap muka via telepon.

Bagi ayah bunda yang harus meninggalkan anak-anak untuk bepergian, ada sedikit tips agar semua berjalan lancar. Check this out.

1. Persiapkan mental anak untuk berpisah. Tekankan bahwa ini hanya sementara. Mungkin perlu waktu untuk meyakinkan mereka bahwa ayah bundanya tidak pergi selamanya.

2. Buat kesepakatan untuk saling menghubungi selama berpisah. Bisa dengan membuat jadwal tertentu, sehingga anak merasa tenang karena ada kepastian dan keteraturan.

3. Ajari anak untuk melakukan rutinitas harian tanpa kita sebagai pendampingnya. Simulasikan seolah-olah ayah bunda sudah berangkat dan si kecil harus belajar mandiri.

4. Temukan orang yang bisa dipercaya untuk menjaga mereka. Diutamakan saudara atau kerabat dekat. Tapi kalau tidak ada, bisa juga tetangga atau sahabat. Yang penting pastikan mereka orang yang baik dan bisa dipercaya.

5. Aktifkan kamera cctv di rumah yang bisa dipantau dengan gadget kita. Untuk berjaga-jaga, bisa juga kita pasang kamera cctv di tempat-tempat strategis.

6. Ini yang paling penting. Selalu berdoa untuk keselamatan anak. Titipkan rumah dan seluruh penghuninya kepada Allah yang maha kuasa. Dia sebaik-baik penjaga. Pasrahkan kepada-Nya. Insyaallah aman.

Oke bunda, semoga tips di atas bermanfaat ya. Dan semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.