Saya menahan diri untuk membeli sebuah tas, yang sebenarnya juga tidak terlalu mahal, selama 2 tahun. Dua tahun yak, catet!

Akhirnya kemarin, saya memutuskan sekaranglah saat yang tepat untuk mendapatkan tas itu.

Kenapa saya menunda begitu lama untuk membeli tas itu? Karena ada kebutuhan yang lebih urgen yang harus saya dahulukan daripada tas itu. Karena saya harus memberi teladan pada anak saya, yang selalu saya nasehati untuk membeli hanya yang perlu, tidak usah membeli barang aneh-aneh apalagi hanya untuk koleksi. Dan karena saya sedang men-challenge diri saya sendiri, seberapa kuat saya menahan nafsu belanja? wkwkwk

Daan tara, tibalah the D-day, tas saya yang lama rusak dan saya butuh tas baru. Yess, ada alasan untuk beli tas idaman itu.

Setelah sekian lamaa, akhirnya ….

Dan gimana perasaan saya setelah mendapatkan tas itu?
Apakah rasanya beda?

Pas awal-awal, iya bahagia. Dipandangi, dikekepi. Sehari, dua hari. Lama-lama kok biasa yaa. Tidak terlalu istimewa lagi.

Itulah dunia. Saat belum kita miliki, rasanya seolah-olah kita akan bahagia banget jika ntar dapet. Setelah beneran terwujud, ternyata rasa senangnya cepat banget menguap.

Lha kalo dituruti, repotlah, seperti sosialita yang videonya sering wira-wiri di timeline, lemarinya aja luasnya puluhan meter persegi. Isinya buanyak banget, dari tas, arloji, cincin, sepatu, baju.

Apakah dengan koleksinya itu, dijamin dia bahagia terus? Tidak juga. Pasti lama-kelamaan excited-nya terhadap barang-barang itu juga akan menghilang.

*”*

Salah satu trik yang saya baca, dari seorang pelaku gaya hidup minimalis adalah: bertanyalah pada diri sendiri sebelum membeli suatu barang. Apakah barang ini benar-benar aku butuhkan?

Karena sejatinya, banyak barang yang kita kira kita butuhkan, ternyata hanya akan nyelip di gudang, atau di pojok lemari, atau di rak dapur teratas yang tak terjangkau. *Itu saya 😉

Seorang penganut minimalist life style yang cukup ekstrim bahkan tak mau ada gudang di rumahnya. Jadi dia benar-benar memilih barang apa yang layak mengisi rumahnya. Barang yang lebih dari 40 hari tak terpakai masuk kategori “harus disingkirkan”, entah itu didonasikan atau di-prelovedkan atau di-recycle.

Dan benar, kata beliau, manfaatnya luar biasa: hidup jadi lebih ringan, lega, tak terbebani oleh barang-barang yang tak perlu.

Hiks, saya juga pingin begitu, tapi apa daya, saya masih suka sayang mengurangi barang-barang yang numpuk di rumah. Yang ini ada memorinya, yang itu siapa tau masih dibutuhkan walaupun “entah kapan”, dan sebagainya. Itulah ujiannya. Keterikatan pada barang.

Beberapa saat yang lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah kelas berbenah dengan metode Konmari. Tahu kan Konmari? Ya, ini adalah sebuah sistem pengaturan barang di rumah yang diciptakan seorang wanita Jepang bernama Marie Kondo.

Video dan tutorialnya banyak bertebaran di YouTube. Bukunya pun ada, bisa dibeli di Gramedia.

Inti dari ajaran Konmari adalah hanya simpan barang yang memberikan efek spark joy, bikin bahagia. Selain itu, lepaskan.

Sejak menerapkan metode Konmari ini, lumayan besar perbedaan yang saya rasakan. Rumah lebih rapi, dan godaan untuk membeli barang hanya karena lucu bentuknya tapi minim fungsi jadi berkurang.

Dan benar, semakin simpel hidup kita, semakin minimalis lifestyle kita, terasa lebih bebas dan bahagia.

Tertarik mencoba gaya minimalis juga?